Adsense

<script async='async' crossorigin='anonymous' src='https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1244610636145975'/>

Senin, 26 Oktober 2026

YOUNG ENTREPRENEUR PROJECT | SMK YAPENKOS BELINYU

 

YOUNG ENTREPRENEUR PROJECT

Membangun Bisnis Handmade untuk Pasar Remaja

Dari Kreativitas Menjadi Peluang Usaha

Dunia remaja tidak pernah lepas dari kreativitas, tren, dan keinginan untuk mengekspresikan diri. Hal ini membuka peluang bisnis yang menarik bagi generasi muda, salah satunya melalui produk handmade berupa bucket atau buket hadiah.

Bucket merupakan produk kerajinan berbentuk wadah atau rangkaian hadiah yang dapat diisi dengan berbagai benda, seperti snack, bunga, uang, boneka kecil, maupun produk lainnya. Daya tariknya bukan semata-mata terletak pada barang yang dijual, melainkan pada kemampuan mengemas barang biasa menjadi hadiah yang memiliki nilai emosional dan estetika.



Sebuah snack dapat menjadi hadiah yang berkesan ketika dirangkai dengan menarik. Sejumlah uang dapat dikemas menjadi bentuk buket yang unik. Begitu pula dengan bunga dan boneka kecil yang dapat disusun menjadi hadiah personal sesuai karakter penerimanya. Di sinilah kreativitas menjadi nilai tambah yang membedakan produk handmade dari barang biasa.

Membaca Peluang di Pasar Remaja

Remaja dapat menjadi target pasar sekaligus pelaku bisnis bucket. Mereka merupakan calon konsumen yang membutuhkan hadiah untuk berbagai momen, seperti ulang tahun, kelulusan, perayaan keberhasilan, hingga ungkapan terima kasih kepada teman, sahabat, atau anggota keluarga.

Di sisi lain, kedekatan remaja dengan tren visual dan media sosial dapat menjadi modal untuk mengembangkan usaha. Produk yang menarik secara visual berpotensi memperoleh perhatian melalui foto, video pendek, dan promosi digital.

Namun, peluang usaha tidak cukup hanya mengandalkan produk yang terlihat menarik. Pelaku usaha perlu memahami kebutuhan konsumen, menentukan harga yang sesuai, menjaga kualitas produk, serta memberikan pelayanan yang baik. Kemampuan membaca selera pasar menjadi bagian penting agar kreativitas dapat berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan.



Belajar Bisnis Melalui Praktik Nyata

Melalui Young Entrepreneur Project, pembelajaran kewirausahaan tidak berhenti pada teori mengenai peluang usaha, modal, pemasaran, dan keuntungan. Peserta didik didorong untuk menerapkan pengetahuan tersebut melalui kegiatan bisnis yang nyata.

Dalam proses membangun usaha bucket, peserta didik dapat memulai dengan mengidentifikasi kebutuhan pasar, merancang konsep produk, memilih bahan, menyusun desain, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, hingga mempromosikan produk kepada calon konsumen.

Setiap tahap memberikan pengalaman belajar yang berbeda. Proses produksi melatih ketelitian dan kreativitas. Perhitungan biaya mengembangkan kemampuan numerasi dan pengelolaan keuangan. Kegiatan promosi melatih komunikasi serta pemanfaatan teknologi digital. Sementara itu, interaksi dengan konsumen mengajarkan pentingnya tanggung jawab, kejujuran, dan pelayanan.







Peserta didik juga belajar bahwa menjalankan bisnis tidak selalu berjalan mulus. Produk yang kurang diminati, kesalahan perhitungan biaya, keterbatasan bahan, atau perubahan tren merupakan tantangan yang perlu dihadapi dengan evaluasi dan solusi. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membangun mental wirausaha.

Kreativitas, Kolaborasi, dan Kemandirian

Bisnis handmade memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan ide sesuai minat dan kemampuannya. Mereka dapat mengeksplorasi variasi desain, kombinasi warna, pilihan isi buket, hingga kemasan yang memiliki ciri khas tersendiri.






Kolaborasi juga menjadi bagian penting dalam prosesnya. Pembagian tugas dalam produksi, pengadaan bahan, pencatatan keuangan, dan pemasaran membantu peserta didik memahami bahwa bisnis membutuhkan kerja sama serta pengelolaan yang terencana.

Lebih dari sekadar menghasilkan produk, kegiatan ini membangun keberanian untuk mencoba, kemampuan mengambil keputusan, serta sikap bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Peserta didik belajar bahwa ide kreatif akan memiliki nilai ekonomi apabila diwujudkan melalui proses yang terarah dan sesuai kebutuhan pasar.

SMK sebagai Laboratorium Kewirausahaan

Sekolah Menengah Kejuruan memiliki peran strategis dalam menyiapkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan mampu memanfaatkan peluang. Pembelajaran kewirausahaan menjadi salah satu ruang untuk menghubungkan pengetahuan di kelas dengan kebutuhan dunia usaha.

Melalui Young Entrepreneur Project, SMK YAPENKOS Belinyu berupaya menjadikan kegiatan belajar sebagai pengalaman yang relevan dengan kehidupan nyata. Produk bucket menjadi salah satu contoh bagaimana keterampilan sederhana dapat dikembangkan melalui kreativitas, pemahaman pasar, dan pemanfaatan pemasaran digital.

Tujuan akhirnya bukan sekadar menghasilkan produk atau memperoleh keuntungan dari sebuah proyek. Lebih jauh, peserta didik diharapkan mampu membangun pola pikir wirausaha: peka terhadap peluang, berani berinovasi, cermat mengelola sumber daya, serta mampu menciptakan nilai bagi orang lain.

Mari jadikan pembelajaran kewirausahaan di SMK YAPENKOS Belinyu bukan sekadar ruang untuk mempelajari bisnis, tetapi laboratorium tempat lahirnya kreativitas, kemandirian, dan calon pencipta lapangan kerja.

Karena setiap usaha besar dapat berawal dari sebuah ide sederhana yang dikerjakan dengan kesungguhan.







---------
Buletin SMK YAPENKOS Belinyu | Kewirausahaan

#YoungEntrepreneurProject
#KewirausahaanSMK
#BisnisHandmade
#BucketKreatif
#KreativitasSiswa
#WirausahaMuda
#PembelajaranBerbasisProyek
#BisnisDigital
#SMKYAPENKOSBelinyu
#GenerasiKreatif
#CalonPengusahaMuda

𝙇𝙄𝙏𝙀𝙍𝘼𝙎𝙄 𝘽𝙐𝙆𝘼𝙉 𝙎𝙀𝙆𝘼𝘿𝘼𝙍 𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼, 𝙈𝙀𝙇𝘼𝙄𝙉𝙆𝘼𝙉 𝙎𝙀𝙉𝙄 𝙈𝙀𝙈𝘼𝙃𝘼𝙈𝙄 𝙆𝙀𝙃𝙄𝘿𝙐𝙋𝘼𝙉

𝙇𝙄𝙏𝙀𝙍𝘼𝙎𝙄 𝘽𝙐𝙆𝘼𝙉 𝙎𝙀𝙆𝘼𝘿𝘼𝙍 𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼,
𝙈𝙀𝙇𝘼𝙄𝙉𝙆𝘼𝙉 𝙎𝙀𝙉𝙄 𝙈𝙀𝙈𝘼𝙃𝘼𝙈𝙄 𝙆𝙀𝙃𝙄𝘿𝙐𝙋𝘼𝙉

"𝙋𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙈𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖, 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙈𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙋𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧"


Pernahkah kita bertanya, mengapa seseorang yang banyak membaca belum tentu mampu memahami persoalan dengan baik? Mengapa orang yang memiliki pengetahuan tinggi terkadang kesulitan menghargai pendapat orang lain?


Pertanyaan ini mengajak kita melihat literasi dari sudut pandang yang lebih luas.
Selama ini, literasi sering kali dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi memiliki peran yang jauh lebih mendasar dalam kehidupan manusia. Membaca membuka kesempatan bagi seseorang untuk menulis. Menulis menjadi sarana untuk berkomunikasi. Melalui komunikasi, manusia membangun kebudayaan, dan kebudayaan menjadi bagian penting dalam perkembangan peradaban.
Dengan demikian, literasi bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang kita ketahui, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakan pengetahuan untuk memahami kehidupan.




6 𝙅𝙚𝙣𝙞𝙨 𝙇𝙞𝙩𝙚𝙧𝙖𝙨𝙞, 𝘽𝙚𝙠𝙖𝙡 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥𝙞 𝙆𝙚𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥𝙖𝙣

Dalam dunia pendidikan, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca buku atau menyelesaikan tugas sekolah. Ada 6 jenis literasi yang penting dikembangkan, yaitu literasi baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan.

Keenamnya saling melengkapi.
Literasi baca tulis, membantu kita memahami dan menyampaikan gagasan.

Literasi Numerasi, melatih kemampuan menggunakan angka untuk mengambil keputusan.

Literasi sains, membangun pemahaman terhadap fenomena alam dan kehidupan.

Literasi digital, membantu kita menggunakan teknologi secara bijak.

Literasi finansial, membekali kita dalam mengelola sumber daya keuangan.

Literasi budaya dan kewargaan, menumbuhkan pemahaman terhadap keberagaman serta tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.

Bagi siswa SMK, seluruh kemampuan tersebut sangat relevan.

Di dunia kerja, misalnya, seseorang tidak cukup hanya terampil mengoperasikan peralatan. Ia juga perlu membaca instruksi, menghitung kebutuhan bahan, memahami prosedur keselamatan, menggunakan teknologi, mengelola uang, serta bekerja sama dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Kompetensi membuat kita mampu bekerja. Literasi membantu kita memahami mengapa, bagaimana, dan untuk tujuan apa pekerjaan itu dilakukan.

𝘿𝙖𝙧𝙞 𝙋𝙚𝙢𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙖𝙣 𝙈𝙚𝙣𝙪𝙟𝙪 𝙋𝙚𝙣𝙜𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣

Literasi tidak tumbuh secara instan. Ia membutuhkan proses yang berkelanjutan. Proses tersebut dapat dimulai melalui tiga tingkatan: pembiasaan, pembelajaran, dan pengembangan.



Pembiasaan menumbuhkan kedekatan dengan aktivitas membaca. Ketika membaca menjadi kebiasaan, siswa memiliki kesempatan lebih besar untuk mengenal berbagai gagasan, memperluas wawasan, dan menemukan pengetahuan baru.

Tahap berikutnya adalah pembelajaran. Siswa tidak hanya membaca, tetapi juga belajar memahami isi bacaan, mengungkapkan kembali gagasannya, berdiskusi, dan membagikan pengetahuan kepada orang lain. Namun, literasi tidak seharusnya berhenti di sana. Pada tingkat pengembangan, siswa mulai menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Sebuah puisi dapat menginspirasi cerpen. Cerita rakyat dapat dikembangkan menjadi artikel kebudayaan. Informasi tentang suatu persoalan dapat diolah menjadi karya, gagasan bisnis, atau solusi yang bermanfaat bagi lingkungan.

Di sinilah pengetahuan mulai menunjukkan daya gunanya.
Siswa tidak lagi sekadar menjadi penerima informasi, tetapi tumbuh menjadi individu yang mampu mengolah informasi, mengembangkan gagasan, dan menciptakan nilai.

𝙇𝙞𝙩𝙚𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙈𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙋𝙤𝙡𝙖 𝙋𝙞𝙠𝙞𝙧, 𝙆𝙚𝙩𝙚𝙧𝙖𝙢𝙥𝙞𝙡𝙖𝙣, 𝙎𝙞𝙠𝙖𝙥, 𝙙𝙖𝙣 𝙆𝙖𝙧𝙖𝙠𝙩𝙚𝙧



Apa yang sebenarnya ingin kita bangun melalui literasi?
Tujuannya tidak semata-mata agar siswa memiliki banyak pengetahuan. Lebih dari itu, literasi diharapkan membantu membentuk empat aspek penting dalam diri manusia.

Pertama, Pola pikir (Mindset).
Literasi melatih siswa untuk berpikir kritis, menganalisis informasi, dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi. Siswa belajar untuk tidak terburu-buru menerima informasi, melainkan memeriksa alasan, mempertimbangkan bukti, dan menyusun kesimpulan secara logis.

Kedua, Keterampilan (Skill).
Pengetahuan perlu diterjemahkan menjadi kemampuan nyata. Bagi siswa SMK, hal ini berarti menghubungkan apa yang dipelajari dengan praktik, menghasilkan karya, menyelesaikan masalah, dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan dunia kerja.

Ketiga, Sikap (Attitude).
Pengetahuan dan keterampilan perlu disertai sikap yang baik. Kejujuran, kesetiaan terhadap tanggung jawab, sikap saling menghargai, dan kemauan bekerja sama menjadi bagian penting dalam kehidupan belajar maupun profesional.

Keempat, Karakter (Behaviour)
Karakter tercermin dalam tindakan yang dilakukan secara konsisten. Disiplin, tanggung jawab, dan integritas tidak cukup hanya dipahami sebagai definisi dalam buku. Semuanya perlu diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari.



Siswa yang memahami pentingnya disiplin, misalnya, perlu membuktikannya melalui ketepatan waktu, kesungguhan menyelesaikan tugas, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan kerja.
Sebab, karakter bukan hanya tentang apa yang kita yakini, melainkan juga tentang bagaimana keyakinan itu tercermin dalam tindakan.




𝙏𝙪𝙟𝙪𝙖𝙣 𝙏𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙞 𝙇𝙞𝙩𝙚𝙧𝙖𝙨𝙞, "𝙋𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙈𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖, 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙈𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙋𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧"
Ada satu pesan penting yang patut menjadi bahan renungan bagi seluruh warga sekolah: perbedaan antara pintar merasa dan merasa pintar.
Merasa pintar dapat membuat seseorang terjebak dalam keyakinan bahwa dirinya selalu benar. Pengetahuan yang dimiliki justru menjadi alasan untuk merendahkan pendapat orang lain, menolak kritik, atau menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang di sekitarnya.
"Sebaliknya, pintar merasa mengajak kita menggunakan pengetahuan untuk memahami orang lain."

Kita belajar menyadari bahwa setiap orang memiliki pengalaman, pemikiran, dan latar belakang yang berbeda. Kita mampu mendengarkan tanpa harus selalu menyetujui, menyampaikan pendapat tanpa merendahkan, serta menerima kritik tanpa merasa kehilangan harga diri.
Inilah salah satu nilai penting yang perlu tumbuh bersama literasi.
Di lingkungan sekolah, kemampuan tersebut dapat diwujudkan melalui diskusi yang sehat, kerja kelompok yang saling menghargai, keberanian mengakui kesalahan, dan kesediaan membantu teman yang mengalami kesulitan.

Di dunia kerja, sikap yang sama diperlukan untuk membangun komunikasi profesional, menyelesaikan konflik, dan menciptakan lingkungan kerja yang produktif.
Sebab, kecerdasan bukan hanya terlihat dari kemampuan menjawab pertanyaan, tetapi juga dari kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan.







(Penutup)

𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼 𝙐𝙉𝙏𝙐𝙆 𝙏𝙐𝙈𝘽𝙐𝙃, 𝘽𝙀𝙍𝙋𝙄𝙆𝙄𝙍 𝙐𝙉𝙏𝙐𝙆 𝘽𝙀𝙍𝙆𝘼𝙍𝙔𝘼, 𝘽𝙀𝙍𝙇𝙄𝙏𝙀𝙍𝘼𝙎𝙄 𝙐𝙉𝙏𝙐𝙆 𝙈𝙀𝙈𝘼𝙉𝙐𝙎𝙄𝘼𝙆𝘼𝙉

Bagi keluarga besar SMK Yapenkos Belinyu, literasi merupakan kesempatan untuk membangun budaya belajar yang lebih bermakna.
Membaca hendaknya tidak berhenti sebagai rutinitas. Menulis tidak seharusnya hanya menjadi tugas. Berdiskusi bukan sekadar kegiatan bertukar pendapat, dan belajar tidak cukup diukur dari kemampuan mengingat materi pelajaran.

Semua itu perlu menjadi jalan untuk membangun pemahaman, mengembangkan keterampilan, melatih daya pikir kritis, dan memperkuat karakter.
Mari menjadikan sekolah sebagai ruang tempat setiap siswa berani bertanya, terbiasa mencari tahu, mampu menghasilkan karya, dan bersedia menghargai sesama. Sebab, masa depan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga manusia yang mampu menggunakan keduanya secara bertanggung jawab.

Jadilah generasi yang terus belajar tanpa merasa paling tahu, terus berkembang tanpa merendahkan orang lain, dan terus berkarya tanpa kehilangan kepedulian terhadap sesama.
Karena pada akhirnya, literasi bukan sekadar membuat kita lebih pintar.
Literasi seharusnya membuat kita lebih manusiawi.



---

𝐁𝐮𝐥𝐞𝐭𝐢𝐧 𝐒𝐌𝐊 𝐘𝐀𝐏𝐄𝐍𝐊𝐎𝐒 𝐁𝐞𝐥𝐢𝐧𝐲𝐮
𝙇𝙄𝙏𝙀𝙍𝘼𝙎𝙄 𝘽𝙐𝙆𝘼𝙉 𝙎𝙀𝙆𝘼𝘿𝘼𝙍 𝙈𝙀𝙈𝘽𝘼𝘾𝘼, 𝙈𝙀𝙇𝘼𝙄𝙉𝙆𝘼𝙉 𝙎𝙀𝙉𝙄 𝙈𝙀𝙈𝘼𝙃𝘼𝙈𝙄 𝙆𝙀𝙃𝙄𝘿𝙐𝙋𝘼𝙉

#LiterasiUntukKehidupan
#PintarMerasaBukanMerasaPintar
#GenerasiLiterat
#BerpikirKritis
#PendidikanKarakter
#SMKYapenkosBelinyu

Senin, 22 Juni 2026

PRAKTIKUM "TALKSHOW" ANALISIS BISNIS MODEL CANVAS (BMC) PADA BISNIS UMKM

PRAKTIKUM "TALKSHOW" ANALISIS BISNIS MODEL CANVAS (BMC) PADA BISNIS UMKM

Digital Operation – SMK Pemasaran (Bisnis Digital) Fase F


“Kalau kamu mau buka usaha…
jawab dulu satu pertanyaan sederhana ini
siapa yang benar-benar butuh produkmu?”

Seorang siswa terdiam.
Bukan karena tidak tahu…
tapi karena baru sadar, selama ini ia hanya fokus menjual, tanpa benar-benar memahami.

Dan di situlah pembelajaran dimulai.

PRAKTIKUM "TALKSHOW" ANALISIS BISNIS MODEL CANVAS (BMC) PADA BISNIS UMKM


🧠 Belajar Menyusun Bisnis, Bukan Sekadar Menjalankan

Di SMK YAPENKOS Belinyu – Jurusan Bisnis Digital,
siswa tidak hanya diajarkan cara berjualan…
tapi juga dilatih untuk berpikir sebagai seorang perancang bisnis.

Melalui praktikum Analisis Business Model Canvas (BMC),
siswa membedah ide usaha mereka menjadi 9 elemen penting:

✨ Customer Segments (Siapa target pasar?)
✨ Value Propositions (Apa nilai unik produk?)
✨ Channels (Lewat mana produk dijual?)
✨ Customer Relationships (Bagaimana membangun hubungan?)
✨ Revenue Streams (Dari mana keuntungan?)
✨ Key Resources (Apa aset utama?)
✨ Key Activities (Apa kegiatan inti?)
✨ Key Partnerships (Siapa mitra bisnis?)
✨ Cost Structure (Apa saja biaya yang muncul?)

PRAKTIKUM "TALKSHOW" ANALISIS BISNIS MODEL CANVAS (BMC) PADA BISNIS UMKM


🎯 Dari Ide Sederhana… Menjadi Rencana yang Terarah

Di atas selembar kanvas,
ide yang awalnya abstrak mulai terlihat jelas.

Siswa belajar bahwa:
👉 Bisnis bukan sekadar “punya produk”
👉 Tapi tentang strategi yang saling terhubung

Setiap keputusan punya konsekuensi,
setiap langkah harus punya alasan.

PRAKTIKUM "TALKSHOW" ANALISIS BISNIS MODEL CANVAS (BMC) PADA BISNIS UMKM


🔥 Latihan Nyata untuk Ujian Sesungguhnya

Materi ini bukan sekadar tugas kelas…
tapi menjadi fondasi utama dalam penyusunan Proposal Bisnis

yang akan dipresentasikan pada 🎓 Ujian Kompetensi Keahlian (UKK) Kelas XII

Di momen itu, siswa tidak hanya diuji pengetahuan saja, tapi diuji bagaimana mereka :

💬 Menjelaskan ide secara logis
📊 Menyusun strategi secara sistematis
🎯 Meyakinkan audiens terhadap kelayakan bisnisnya

PRAKTIKUM "TALKSHOW" ANALISIS BISNIS MODEL CANVAS (BMC) PADA BISNIS UMKM


💡 Dari Bingung… Menjadi Paham Arah

Yang awalnya hanya punya ide, kini mulai memahami pasar. Yang awalnya sekadar ikut tren, kini mampu menyusun strategi. Yang awalnya ragu menjelaskan, kini berani mempresentasikan dengan percaya diri.

Praktikum ini tidak hanya melatih keterampilan, tapi membentuk cara berpikir siswa siswi pemasaran.  Membekali mereka dalam daya analitis dalam melihat peluang bisnis, memiliki strategi bisnis terarah dalam memasarkan produknya, dan siap menghadapi kemungkinan hambatan atau resiko bisnis secara nyata. Karena di dunia bisnis, yang bertahan bukan yang paling cepat, tetapi yang paling siap dan terstruktur.

PRAKTIKUM "TALKSHOW" ANALISIS BISNIS MODEL CANVAS (BMC) PADA BISNIS UMKM


🎓 SMK YAPENKOS Belinyu

Belajar Hari Ini, Siap Membangun Bisnis Esok Hari. Karena sebuah bisnis yang besar itu tidak dimulai dari keberanian semata, tapi dari perencanaan yang matang. 
Dan di sinilah, semua itu dibentuk.

--------------------------------------------

Berikut adalah konsep diskusi kelompok lengkap untuk mengelola business plan menggunakan metode Business Model Canvas (BMC), dirancang untuk tugas kelompok di SMK Yapenkos Belinyu, jurusan Pemasaran ( Bisnis Digital ).

Konsep ini berbentuk project analisis bisnis berbasis BMC yang mencakup 9 elemen BMC secara menyeluruh. Konsep ini juga memungkinkan diskusi kolaboratif, pembagian tugas yg jelas dan presentasi terstruktur untuk siswa vokasi atau Sistem Manajemen E-Learning (SME) sesuai konteks pengajaran di SMK Bisnis Digital. Konsep Diskusi Kelompok : Diskusi kelompok berlangsung sekitar 30 menit dimulai dengan brainstorming untuk menentukan ide bisnis sederhana, menginput strategi 9 pilar BMC dan menemukan peluang maupun kelemahan (threat) secara jangka panjang pada businessplan yang dikelola. Tujuannya penugasan ini diantaranya untuk : 1. Mengembangkan business plan lengkap via BMC 2. Mengidentifikasi peluang pada konsep bisnis yg akan dibangun, 3. Mengidentifikasi risiko pada perancangan business plan anda 4. Memetakan langkah-langkah strategi berkelanjutan.
Konsep ini siap diterapkan di kelas vokasi Anda. Bisa disesuaikan dengan Kurikulum Merdeka untuk proyek mandiri di sekolah Anda. Untuk versi full-video bisa pembaca tonton di channel Youtube kami, https://www.youtube.com/@KopiSusuBisnisDigital Terima kasih, semoga bermanfaat

PRAKTIKUM LIVE STREAMING TIKTOK MARKETING

 PRAKTIKUM LIVE STREAMING TIKTOK MARKETING

SMK YAPENKOS Belinyu, 9 Juni 2026



Suara notifikasi mulai masuk satu per satu…

“kak ini ready?”
“spill harga dong!”
“cara belinya gimana?”

Di depan kamera, seorang siswa berdiri.
Awalnya gugup… tapi perlahan suaranya mulai mantap.

“Baik kak, ini produknya lagi promo ya… klik keranjang kuning di bawah…”

Dan di situlah pembelajaran dimulai,bukan dari buku, tapi dari pengalaman nyata menghadapi calon pembeli.

PRAKTIKUM LIVE STREAMING TIKTOK MARKETING


Belajar yang Dirasakan, Bukan Sekadar Dijelaskan

Di SMK YAPENKOS Belinyu – Jurusan Bisnis Digital, kami percaya bahwa pemasaran digital tidak cukup hanya dipahami… tapi harus dialami langsung.

Melalui Praktikum Live Streaming TikTok Marketing, siswa belajar menguasai salah satu fitur terkuat dalam dunia social commerce:
Yaitu Live Shopping TikTok Shop

Di dalam sesi ini, siswa tidak hanya tampil…tetapi banyak pengalaman baik mereka dapatkan dalam pembelajaran praktikum ini, diantaranya :

✨ Membawakan produk dengan percaya diri
✨ Mengelola interaksi real-time dengan audiens
✨ Mengarahkan penonton menuju keputusan pembelian
✨ Menggunakan fitur penting seperti:

  • Keranjang kuning (shopping cart)
  • Call to Action (CTA) yang persuasif
  • Strategi komunikasi yang natural, tidak kaku seperti iklan


Di Balik Layar, Ada Proses Berpikir yang Dilatih

Setiap live streaming bukan sekadar “jualan”…tapi sebuah proses memahami, untuk :

👉 Bagaimana perhatian audiens bekerja
👉 Bagaimana kepercayaan dibangun dalam hitungan detik (Hook)
👉 Bagaimana respon cepat bisa menjadi closing

Siswa dilatih untuk sadar bahwa setiap kata, setiap ekspresi, setiap interaksi… punya dampak.




Dari Rasa Gugup… Menjadi Percaya Diri

Yang awalnya hanya melihat layar, kini mulai berani berbicara di dalamnya.

Yang awalnya ragu menawarkan, kini mampu meyakinkan.

Yang awalnya belajar… kini mulai mempraktikkan cara menghasilkan.




Mencetak Generasi Siap Digital

Praktikum ini bukan hanya soal teknologi, tapi tentang membangun karakter:

💪 Percaya diri tampil di depan publik
🧠 Cepat berpikir dalam situasi nyata
🎯 Fokus pada tujuan dan hasil

Karena di dunia hari ini, yang unggul bukan hanya yang tahu… tapi yang berani mencoba dan mampu beradaptasi.




SMK YAPENKOS Belinyu

Belajar Hari Ini, Siap Jualan Hari Ini. 

Karena masa depan bukan milik mereka yang hanya menonton perubahan…
tapi milik mereka yang ikut mengambil peran di dalamnya.

Inilah langkah awal mencetak generasi yang tidak hanya siap kerja rwr]tapi juga siap menciptakan peluangnya sendiri. 

Ingin anak Anda tidak hanya jadi penonton di era digital…
tapi menjadi pelaku utama di dalamnya?

👉 Jurusan Bisnis Digital SMK YAPENKOS Belinyu adalah jawabannya.















YOUNG ENTREPRENEUR PROJECT | SMK YAPENKOS BELINYU

  YOUNG ENTREPRENEUR PROJECT Membangun Bisnis Handmade untuk Pasar Remaja Dari Kreativitas Menjadi Peluang Usaha Dunia remaja tidak pernah l...