Adsense

<script async='async' crossorigin='anonymous' src='https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-1244610636145975'/>
Tampilkan postingan dengan label MARKETING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MARKETING. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2026

MATERI PRESENTASI STUDI KELAYAKAN BISNIS | Memahami Cara Membuat Orang Mau Membeli

MATERI PRESENTASI STUDI KELAYAKAN BISNIS

Memahami Cara Membuat Orang Mau Membeli

Pernahkah Anda bertanya, mengapa seseorang tertarik membeli suatu produk, sementara produk lain yang terlihat serupa justru diabaikan? Apakah keputusan membeli hanya ditentukan oleh harga, atau ada faktor lain yang membuat seseorang yakin bahwa produk tersebut layak dipilih?

Pertanyaan ini menjadi titik awal untuk memahami dunia bisnis yang sesungguhnya.

Dalam pemasaran, memiliki produk yang bagus saja belum cukup. Seorang pelaku bisnis juga harus mampu mengenali kebutuhan pasar, memahami calon konsumen, menyusun strategi penawaran, membangun kepercayaan, serta menyampaikan nilai produk secara meyakinkan. Di sinilah kemampuan menganalisis kelayakan bisnis dan merancang pendekatan pemasaran menjadi sangat penting.

Bagi peserta didik SMK Konsentrasi Keahlian Bisnis Digital, pemahaman ini bukan sekadar materi yang dipelajari di kelas. Pengetahuan tersebut merupakan bekal untuk menghadapi Uji Kompetensi (UKK) tahun pelajaran ini, ketika kemampuan merencanakan, mempresentasikan, dan mempertanggungjawabkan sebuah gagasan bisnis perlu ditunjukkan secara nyata.

Melalui materi “Studi Kelayakan Bisnis: Memahami Cara Membuat Orang Mau Membeli”, Anda akan diajak melihat sebuah ide bisnis dari sudut pandang yang lebih strategis: bukan hanya apa yang ingin dijual, tetapi juga siapa yang membutuhkan, mengapa mereka harus tertarik, dan apa yang membuat mereka yakin untuk membeli.

Sebab, bisnis yang layak bukan hanya bisnis yang produknya dapat dibuat, melainkan bisnis yang memiliki alasan kuat untuk dipilih oleh pasar.

Bacalah materi ini hingga akhir. Bisa jadi, cara Anda menilai sebuah ide bisnis akan berubah—dari sekadar memikirkan produk yang ingin dijual, menjadi memahami nilai yang benar-benar dibutuhkan konsumen. Dan pemahaman itulah yang dapat membantu Anda menyusun presentasi bisnis dengan lebih logis, meyakinkan, dan siap dipertanggungjawabkan dalam UKK.



Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi Studi Kelayakan Bisnis: Memahami Cara Membuat Orang Mau Membeli, peserta didik diharapkan mampu:

1. Memahami kebutuhan dan perilaku konsumen dengan mengidentifikasi masalah, kebutuhan, karakteristik, serta alasan calon konsumen tertarik atau memutuskan membeli suatu produk.

2. Menganalisis potensi pasar dan peluang bisnis dengan menentukan target konsumen, menilai kebutuhan pasar, serta mengidentifikasi nilai atau keunggulan yang dapat ditawarkan oleh suatu produk.

3. Menyusun strategi pemasaran yang persuasif dengan merumuskan pesan penawaran yang menonjolkan manfaat produk, membangun kepercayaan, dan menjawab kebutuhan calon konsumen secara relevan.

4. Menilai kelayakan sebuah ide bisnis dari perspektif pasar dengan menghubungkan kebutuhan konsumen, nilai produk, strategi pemasaran, potensi penjualan, dan pertimbangan biaya secara logis.

5. Mempresentasikan gagasan bisnis secara meyakinkan melalui penjelasan yang terstruktur, argumentasi berbasis analisis, serta alasan yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai potensi bisnis dan peluang produk diterima pasar.

6. Menerapkan pemahaman dalam persiapan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) dengan menyusun dan mempresentasikan rencana bisnis yang tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pasar dan realistis untuk dijalankan.

Kompetensi utama yang ingin dicapai

Peserta didik tidak hanya mampu menjelaskan produk apa yang akan dijual, tetapi juga mampu menjawab tiga pertanyaan mendasar:

  • Siapa yang akan membeli produk ini, dan apa kebutuhannya?

  • Mengapa calon konsumen harus tertarik dan memilih produk ini?

  • Apa bukti dan pertimbangan yang menunjukkan bahwa ide bisnis ini layak dijalankan?

Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran tidak diukur hanya dari kemampuan membuat presentasi yang menarik, tetapi juga dari kemampuan menganalisis pasar, menyusun alasan bisnis yang logis, dan meyakinkan audiens berdasarkan nilai serta kelayakan usaha yang ditawarkan.

I — Memahami hakikat marketing


1.1. Apa yang sebenarnya ingin dicapai marketing?

Marketing sering disalahartikan sebagai aktivitas mempromosikan barang, mengunggah foto produk, memasang iklan, atau memberikan diskon.




Semua itu bisa menjadi bagian dari marketing, tetapi bukan keseluruhan tujuan marketing.

Tujuan praktisnya adalah membangun hubungan antara:
  • Produk yang ditawarkan.
  • Orang yang berpotensi membelinya.
  • Masalah atau keinginan yang dimiliki orang tersebut.
  • Alasan untuk memilih produk kita.
  • Kemudahan untuk mengambil keputusan pembelian.

Sebagai contoh, sebuah sekolah membutuhkan meja kursi siswa. Menampilkan foto meja kursi hanya membantu calon pembeli mengetahui bentuk produknya.

Marketing yang lebih terarah juga membantu pihak sekolah memahami mengapa konstruksi rangka, kualitas pengerjaan, kenyamanan, pemeliharaan, dan kesesuaian anggaran perlu dipertimbangkan.

Intinya: marketing tidak berhenti pada memperlihatkan produk, tetapi membantu calon pembeli memahami nilai produk bagi dirinya.

1.2. Mengapa produk yang bagus belum tentu laku?






Produk yang bagus belum tentu terjual apabila:
  • Orang yang tepat tidak mengetahui produk tersebut.
  • Produk tidak sesuai dengan kemampuan anggaran calon pembeli.
  • Calon pembeli belum percaya kepada penjual.
  • Produk tidak menimbulkan keinginan untuk memilikinya.
  • Calon pembeli belum melihat alasan yang cukup kuat untuk membelinya sekarang.

Inilah alasan kita perlu memahami kelima tahap di atas. Setiap hambatan memerlukan pendekatan marketing yang berbeda.

II — Tahap 1: TAHU (Awareness)

2.1. Pengertian

Tahap tahu adalah kondisi ketika calon pembeli mengetahui bahwa sebuah produk, layanan, atau penyedia solusi tersedia.




Namun, sekadar mendapatkan banyak penayangan belum tentu berarti marketing berhasil. Yang lebih penting adalah apakah informasi tersebut sampai kepada orang yang relevan.

2.2. Menentukan target market

Bagian awal dari proses awareness yaitu bagaimana cara membuat orang mengetahui produk melalui pertanyaan mengenai target market, termasuk siapa targetnya dan di mana mereka berada.





Berikut hierarki yang dapat digunakan :

A. WHO — Siapa target market kita?

Tentukan siapa yang mempunyai kebutuhan, kewenangan, atau pengaruh dalam pembelian.

Contoh KIREINA MEDIA: kepala sekolah, bendahara sekolah, pengelola sarana prasarana, dan pihak yang bertanggung jawab atas pengadaan.


B. WHERE — Di mana mereka berada?

Cari tahu lokasi dan lingkungan tempat calon pembeli beraktivitas.

Contoh: sekolah-sekolah di wilayah Bangka, grup komunitas pendidikan, forum kepala sekolah, atau kanal informasi yang relevan.


C. THROUGH WHOM — Melalui siapa kita menjangkau mereka?

Identifikasi pihak atau jaringan yang dapat membantu mempertemukan bisnis dengan calon pembeli.

Contoh: rekomendasi pelanggan, jaringan profesional, mitra, atau komunitas yang relevan.


D. THROUGH WHAT — Melalui media apa?

Pilih saluran komunikasi yang sesuai dengan kebiasaan target market.

Contoh: Facebook untuk menarik perhatian, Channel WhatsApp untuk memberikan referensi lebih mendalam, serta WhatsApp pribadi untuk komunikasi dan tindak lanjut.

Empat pertanyaan tersebut membantu kita menghindari promosi yang dilakukan secara acak.


2.3. Strategi agar produk diketahui

  • Buat konten yang berangkat dari masalah calon pembeli.
  • Gunakan istilah yang dipahami target market.
  • Sebarkan konten di tempat audiens biasa mencari informasi.
  • Bangun jaringan dan rekomendasi pelanggan.
  • Gunakan iklan jika diperlukan, dengan target dan tujuan yang jelas.

Kesalahan umum: mengukur keberhasilan hanya dari jumlah tayangan atau pengikut, tanpa memeriksa apakah audiens yang dijangkau sesuai dengan pasar yang dituju.


III — Tahap 2: MAMPU (Affordability & Accessibility)

3.1. Pengertian

Pada tahap ini, calon pembeli sudah mengetahui produk, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu berubah menjadi transaksi.




Salah satu pertanyaan penting adalah apakah calon pembeli mampu dan dapat mengakses penawaran kita?

Kemampuan membeli tidak hanya berkaitan dengan harga. Kemudahan proses pembelian, metode pembayaran, ketersediaan produk, dan kesesuaian penawaran juga dapat memengaruhi keputusan.

3.2. Faktor yang memengaruhi kemampuan membeli

  • Kemampuan anggaran.
    Harga produk sesuai dengan kapasitas keuangan calon pembeli.
  • Pilihan penawaran.
    Tersedia alternatif spesifikasi atau paket yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, tanpa mengorbankan persyaratan penting.

  • Kemudahan pembayaran.
    Mekanisme pembayaran jelas dan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

  • Kemudahan akses.
    Calon pembeli mengetahui cara memesan, memperoleh informasi, dan menerima produk.

  • Ketersediaan dan waktu.
    Produk dapat disediakan sesuai kebutuhan dan jadwal yang realistis.

3.3. Contoh penerapan pada KIREINA MEDIA

Misalnya, sebuah sekolah memerlukan meja kursi siswa, tetapi anggarannya terbatas.

Pendekatan marketing yang baik bukan sekadar mendesak sekolah untuk membeli produk yang lebih mahal.

Langkah yang lebih tepat adalah:
  • Mengidentifikasi jumlah dan spesifikasi yang dibutuhkan.
  • Memastikan batas anggaran.
  • Menawarkan alternatif konstruksi atau material yang sesuai.
  • Menjelaskan perbedaan manfaat dan konsekuensi setiap alternatif.
  • Menyusun penawaran yang transparan.

Jika ada pilihan pembayaran atau pengadaan tertentu, seluruh mekanismenya harus mengikuti ketentuan yang berlaku.

Prinsipnya: jangan hanya membuat calon pembeli tertarik pada produk; buat penawaran yang realistis untuk mereka jangkau.

IV — Tahap 3: PERCAYA (Trust & Credibility)

4.1. Pengertian

Orang bisa mengetahui produk dan mampu membelinya, tetapi tetap tidak melakukan transaksi karena belum percaya.

Mereka mungkin bertanya:
  • Apakah kualitas produk sesuai dengan penawaran?
  • Apakah penjual dapat dipercaya?
  • Apakah produk benar-benar tersedia?
  • Apakah pesanan akan diselesaikan sesuai kesepakatan?
  • Apakah ada bukti bahwa penyedia mampu mengerjakan pesanan?

Pada tahap ini, marketing perlu mengurangi keraguan melalui bukti yang dapat diperiksa.


4.2. Lima instrumen membangun kepercayaan

Dalam video, terlihat lima unsur yang dibahas untuk membangun kepercayaan: histori, prestasi, testimoni, garansi, dan cerita.

1. Histori — Rekam jejak

Tunjukkan pengalaman, proyek yang pernah dikerjakan, proses produksi, serta perjalanan bisnis yang relevan.

Contoh: dokumentasi proses pengerjaan meja kursi sekolah dari persiapan material hingga pemeriksaan akhir.


2. Prestasi — Bukti kemampuan

Tampilkan kompetensi, fasilitas, hasil pekerjaan, atau pencapaian yang benar-benar dimiliki.

Contoh: memperlihatkan detail konstruksi, kualitas sambungan, dan hasil pemeriksaan produk.


3. Testimoni — Pengalaman pelanggan

Gunakan pengalaman pelanggan yang nyata, relevan, dan mendapat izin untuk dipublikasikan.

Contoh: ulasan pelanggan mengenai ketepatan pengerjaan atau kesesuaian produk dengan pesanan.


4. Garansi — Kepastian layanan

Jelaskan cakupan garansi, durasi, syarat, pengecualian, dan prosedur klaim secara tertulis.

Contoh: ketentuan garansi untuk bagian produk tertentu sesuai kesepakatan.


5. Story — Cerita yang bermakna

Ceritakan proses, tantangan, pertimbangan desain, dan alasan di balik keputusan produksi.

Contoh: mengapa rangka meja kursi dirancang dengan konstruksi tertentu untuk menghadapi penggunaan sekolah sehari-hari.


4.3. Bagaimana menggunakan kelima unsur tersebut?


Jangan hanya mengatakan, “Produk kami berkualitas.”

Bangun kepercayaan melalui rangkaian bukti:

Histori: ini pekerjaan yang pernah kami selesaikan.


Prestasi: ini kemampuan dan proses yang dapat kami tunjukkan.


Testimoni: ini pengalaman pelanggan yang sesungguhnya.


Garansi: ini bentuk tanggung jawab yang disepakati.


Story: ini alasan di balik cara kami merancang dan mengerjakan produk.

Perlu diingat, setiap unsur tidak harus muncul dalam satu konten. Kamu dapat menyebarkannya ke berbagai konten Facebook dan Channel WhatsApp.

Prinsip penting, "Klaim menarik perhatian, tetapi bukti membantu membangun kepercayaan."


V — Tahap 4: PENGEN (Desire & Persuasion)

5.1. Pengertian


Pada tahap ini, calon pembeli tidak hanya mengetahui produk dan mempercayainya, tetapi mulai ingin memilikinya.

Seseorang bisa mengakui bahwa sebuah produk bagus tanpa merasa perlu membelinya sekarang.

Karena itu, marketing perlu menjelaskan nilai yang akan diperoleh calon pembeli dan mengapa penawaran tersebut layak dipertimbangkan.

Seperti halnya anda bisa membumbui sebuah konten marketing tentang nilai tambah, bonus, keterbatasan waktu atau stok, serta FOMO.


5.2. Cara membangun keinginan membeli


A. Value — Nilai yang diperoleh

Jangan hanya menyebut fitur. Jelaskan manfaat fitur tersebut bagi pembeli.

Contoh:

Fitur: rangka meja menggunakan konstruksi besi.


Nilai: dapat dirancang untuk menopang beban dan menghadapi penggunaan berulang.


Bukti: spesifikasi material, detail konstruksi, dan hasil pemeriksaan produk.

B. Bonus — Nilai tambah


Bonus dapat meningkatkan daya tarik penawaran apabila relevan dengan kebutuhan pembeli.

Contoh: layanan pengantaran atau instalasi yang memang tersedia dan tercantum dalam penawaran.

Bonus harus memiliki ketentuan yang jelas, bukan sekadar tambahan yang membingungkan.


C. Limit waktu — Batas waktu


Batas waktu dapat membantu calon pembeli menentukan keputusan apabila memang terdapat alasan operasional yang nyata.

Contoh: batas pemesanan untuk memenuhi jadwal produksi tertentu.

Jangan menciptakan tenggat palsu hanya untuk menekan calon pembeli.


D. Limit stok — Ketersediaan terbatas


Informasikan keterbatasan stok jika benar-benar terjadi.

Contoh: jumlah unit siap kirim yang tersedia saat ini.


E. FOMO — Fear of Missing Out


FOMO adalah kekhawatiran kehilangan kesempatan atau manfaat yang bernilai.

Dalam praktik yang sehat, tunjukkan kesempatan nyata yang mungkin terlewatkan, misalnya batas waktu pemesanan yang berkaitan dengan jadwal produksi atau kebutuhan acara.

Hindari tekanan berlebihan, kelangkaan palsu, dan janji yang tidak dapat dibuktikan.


5.3. Jangan tertukar antara fitur dan keinginan


Perhatikan contoh berikut.



Marketing yang baik membantu pembeli membayangkan manfaat yang relevan, bukan sekadar membuat daftar spesifikasi.


VI — Tahap 5: PERLU (Need Recognition)

6.1. Pengertian

Tahap perlu berkaitan dengan kesadaran calon pembeli bahwa produk mempunyai hubungan nyata dengan masalah, tujuan, atau kebutuhannya.

Video mengangkat pertanyaan penting: mengapa orang tidak merasa perlu membeli?

Jawabannya dapat beragam. Mereka mungkin belum menyadari masalahnya, belum memahami akibatnya, belum memiliki prioritas anggaran, atau belum melihat hubungan antara produk dan kebutuhan mereka.

6.2. Membangun kesadaran kebutuhan


Gunakan langkah berikut.

  • Identifikasi masalah.
    Temukan persoalan yang benar-benar dihadapi calon pembeli.

  • Jelaskan dampaknya.
    Bantu mereka memahami konsekuensi jika persoalan dibiarkan, tanpa melebih-lebihkan.

  • Hubungkan dengan solusi.
    Jelaskan bagaimana produk dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Berikan kriteria evaluasi. Bantu calon pembeli menentukan kapan produk diperlukan dan aspek apa yang harus diperiksa.


Ajak mengambil langkah yang relevan. Misalnya, melakukan pemeriksaan fasilitas, membuat daftar kebutuhan, atau meminta spesifikasi dan penawaran.


6.3. Contoh penerapan: meja kursi sekolah


Pendekatan yang berorientasi pada produk:

    "Kami menyediakan meja kursi siswa dengan rangka full besi."

Pendekatan yang membangun kesadaran kebutuhan:

"Sebelum merencanakan pengadaan meja kursi siswa, periksa kondisi rangka, kestabilan konstruksi, sambungan, permukaan meja, dan kenyamanan pengguna. Pemeriksaan ini membantu sekolah menentukan bagian mana yang masih layak digunakan dan bagian mana yang perlu diganti."

Pendekatan kedua tidak langsung memaksa orang membeli. Pendekatan ini membantu calon pembeli mengenali persoalan dan menentukan langkah berdasarkan kondisi sebenarnya.

Jika ternyata fasilitas masih layak, penggantian belum tentu diperlukan. Justru sikap seperti ini dapat membantu membangun kredibilitas jangka panjang.

6.4. Mengapa membangun kesadaran kebutuhan penting?

Apabila calon pembeli belum memahami masalahnya, promosi produk dapat terasa tidak relevan.

Bisnis kemudian berisiko harus mengeluarkan upaya lebih besar untuk meyakinkan orang yang belum merasa membutuhkan produk tersebut.

Dalam video, gagasan ini dikaitkan dengan sulitnya bersaing dan besarnya biaya untuk mendapatkan perhatian pasar.

Hal itu perlu dipahami sebagai peringatan strategis, bukan angka atau hukum yang berlaku untuk semua bisnis: membangun pasar melalui edukasi dapat menjadi strategi yang lebih sehat daripada hanya bersaing dalam perang harga dan iklan.


VII — Hubungan hierarkis kelima tahap

Kelima tahap dapat digunakan sebagai alat diagnosis ketika promosi tidak menghasilkan transaksi.




Perlu dicatat, indikator tersebut adalah contoh ukuran praktis, bukan tolok ukur baku. Hasilnya harus dibaca sesuai konteks produk, siklus pembelian, dan jenis pelanggan.


VIII — Penerapan lengkap untuk toko KIREINA MEDIA

Sekarang kita terapkan kerangka ini pada repositioning Channel WhatsApp KIREINA MEDIA.

Tujuannya bukan hanya menjual meja kursi, rak, lemari, papan informasi, atau fasilitas lainnya. Tujuannya adalah membangun persepsi KIREINA MEDIA sebagai sumber referensi sarana sekolah yang membantu pihak sekolah mengambil keputusan lebih baik.

8.1. Strategi berdasarkan tahap

Tahap 1 — TAHU

Tujuan: menjangkau calon audiens.

Konten Facebook: “Kenapa Meja Kursi Sekolah Bisa Cepat Rusak?”

Sajikan persoalan yang dekat dengan pengalaman pengelola sekolah, kemudian arahkan pembaca ke Channel WhatsApp.


Tahap 2 — MAMPU

Tujuan: membantu pembeli mengevaluasi pilihan.

Konten Channel: “5 Hal yang Perlu Diperiksa Sebelum Memilih Meja Kursi Siswa.”

Bahas spesifikasi, alternatif material, kesesuaian anggaran, dan biaya yang relevan.


Tahap 3 — PERCAYA

Tujuan: memperlihatkan kompetensi.

Konten BTS: “Apa Saja yang Diperiksa Sebelum Meja Kursi Diserahkan?”

Tunjukkan proses nyata, detail pengerjaan, dan pemeriksaan kualitas.


Tahap 4 — PENGEN

Tujuan: memperlihatkan manfaat yang menarik.

Konten: “Bagaimana Memilih Meja Kursi yang Sesuai dengan Aktivitas Belajar?”

Tampilkan manfaat desain, kenyamanan, fungsi, dan konstruksi melalui contoh yang konkret.


Tahap 5 — PERLU

Tujuan: membantu sekolah mengenali kebutuhan.

Konten: “Kapan Meja Kursi Siswa Perlu Diperbaiki dan Kapan Perlu Diganti?”

Bantu sekolah menilai kondisi fasilitas sebelum menentukan tindakan.

8.2. Bagaimana menghubungkan Facebook dan Channel WhatsApp?


Gunakan pembagian fungsi berikut.



Jangan menganggap semua orang yang mengikuti Channel akan langsung membeli. Sebagian mungkin sedang belajar, sebagian sedang menyusun rencana pengadaan, dan sebagian lainnya belum memiliki kebutuhan dalam waktu dekat.

Konten referensi tetap mempunyai nilai karena membantu membangun hubungan dan kepercayaan sebelum kebutuhan pembelian muncul.

IX — Latihan memahami materi

Kuis pemahaman

5 soal

1. Sebuah sekolah sudah melihat produk meja kursi, tetapi belum mengetahui siapa penyedianya. Tahap apa yang terutama perlu diperkuat?

O Tahu

O Mampu

O Percaya

O Pengen



2. Calon pembeli tertarik, tetapi harga dan spesifikasi yang ditawarkan tidak sesuai anggaran. Apa yang harus dievaluasi?

O Histori bisnis

O Kemampuan membeli dan struktur penawaran

O FOMO

O Cerita produk



3. Konten manakah yang paling langsung membantu membangun kepercayaan?

O Klaim bahwa produk paling kuat

O Foto promosi tanpa keterangan

O Dokumentasi proses dan pemeriksaan produk yang nyata

O Pengumuman diskon setiap hari



4. Sekolah belum menyadari bahwa fasilitasnya perlu dievaluasi. Konten yang paling tepat adalah…

O Desakan agar segera membeli

O Edukasi cara memeriksa kondisi fasilitas

O Diskon tanpa konteks

O Daftar harga saja



5. Apa fungsi utama Facebook dalam alur konten KIREINA MEDIA yang dirancang di materi ini?

O Menggantikan seluruh proses konsultasi

O Menarik perhatian dan mengarahkan audiens ke referensi

O Menjamin semua pengikut membeli

O Menghindari pemberian informasiPeriksa jawaban


X — Kesimpulan dan prinsip yang perlu diingat



Sebagai penutup, materi ini dapat dirangkum melalui lima pertanyaan yang perlu dijawab oleh setiap strategi marketing:

TAHU: Apakah orang yang tepat mengetahui produk kita?


MAMPU: Apakah mereka mampu dan mudah mengakses penawaran?


PERCAYA: Apakah mereka mempunyai alasan dan bukti untuk mempercayai kita?


PENGEN: Apakah mereka memahami nilai yang membuat produk layak dipilih?


PERLU: Apakah mereka menyadari hubungan produk dengan kebutuhan nyata mereka?

Kelima pertanyaan tersebut membantu kita mendiagnosis hambatan pemasaran, bukan hanya menambah frekuensi promosi.

Untuk KIREINA MEDIA, implikasi strategisnya cukup jelas, "jangan hanya mempromosikan barang yang dijual. Bangun pengetahuan pasar tentang cara mengenali kebutuhan, mengevaluasi fasilitas, dan memilih solusi yang sesuai."

Dengan begitu, Facebook bukan sekadar tempat mengunggah flyer, Channel WhatsApp bukan sekadar katalog produk, dan proses konsultasi bukan sekadar aktivitas menawarkan harga. Ketiganya menjadi satu sistem komunikasi yang membantu calon pembeli bergerak dari mengenal masalah hingga mengambil keputusan secara lebih terinformasi.


Semoga Bermanfaat
SMK Yapenkos Belinyu 

MATERI PRESENTASI STUDI KELAYAKAN BISNIS | Memahami Cara Membuat Orang Mau Membeli

MATERI PRESENTASI STUDI KELAYAKAN BISNIS Memahami Cara Membuat Orang Mau Membeli Pernahkah Anda bertanya, mengapa seseorang tertarik membeli...